TopBabel.com-Jurnalis Bangka Belitung (Babel), staf dinas informasi dan informatika Provinsi (diskominfo), staf dinas diskominfo Kabupaten/kota, sebagai peserta Lokarkarya Jurnalisme Lingkungan yang diselenggarakan diskominfo Provinsi Bangka Belitung, Konservasi Alam Nusantara (Untuk Indonesia Lestari) dan Serumpun Sebalai, Kamis (5/11/2026) melakukan aksi susur sungai menuju zona mangrove di kawasan Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar perjalanan jurnalistik, tetapi juga menjadi misi penting untuk melihat dari dekat kondisi ekosistem pesisir serta mendengarkan langsung kisah perjuangan lingkungan di Pondok Wanamina oleh tim Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Nikki Astrida pemerhati hutan Mangrove, yang juga sebagai konservasi lapangan dari YKAN, Yoseph, Kepala Desa Edy Candra, Sekretaris Wanamina Abdul Robiz.

Di Pondok Wanamina, para jurnalis berkesempatan mendengarkan cerita dan edukasi mengenai perjuangan panjang dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga mangrove.
Mangrove bukan sekadar tanaman pesisir biasa, melainkan pilar utama yang menjaga keberlangsungan kehidupan lingkungan di sekitarnya, Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Bangka.
Hutan mangrove diakui sebagai salah satu ekosistem paling krusial bagi wilayah pesisir dan kepulauan. Secara ekologis, ekosistem ini berperan penting sebagai benteng ketahanan pesisir bagi masyarakat setempat.
Keberadaan mangrove berfungsi melindungi garis pantai dari ancaman abrasi, mereduksi energi gelombang laut, menahan sedimen tanah, serta membantu menyerap sekaligus menahan luapan kelebihan air hujan.
Selain itu, ekosistem ini menjadi habitat vital bagi berbagai sumber daya perikanan yang menopang mata pencaharian nelayan.
Melihat Potensi Wisata dan Sejarah di Situs Cagar Budaya Kota Kapur, tidak hanya berfokus pada ekosistem lingkungan, rangkaian kunjungan para Jurnalis Babel ini dilanjutkan dengan menyambangi Situs Cagar Budaya Kota Kapur.

Di lokasi bersejarah ini, para jurnalis tampak aktif melontarkan berbagai pertanyaan untuk memastikan kondisi terkini situs tersebut. Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, kawasan bersejarah ini dinilai masih sangat layak untuk diperjuangkan sebagai destinasi wisata unggulan Kota Kapur.
Perhatian mendalam terhadap masa depan situs purbakala ini turut disuarakan oleh salah satu jurnalis Lia saat diwawancarai TopBabel.com, Sabtu (6/11/2026), Lia dengan tegas menyatakan bahwa hutan mangrove dan Situs Kota Kapur memiliki nilai sejarah luar biasa yang wajib diselamatkan dan diperjuangkan.

Menurut Lia, Pemerintah Kabupaten, Provinsi Babel, bahkan Pemerintah Pusat harus benar-benar memiliki niat dan komitmen yang kuat untuk melestarikan situs Cagar Budaya Kota Kapur, Bangka Belitung.
Pemerintah daerah harus peduli dengan keberadaan aset sejarah ini,” ujar Lia dengan penuh penekanan.
Lebih lanjut, Lia juga menyoroti hambatan yang selama ini membayangi pengembangan kawasan tersebut, salah satunya terkait sengketa atau status lahan.
Dikatakan Lia, bahwa persoalan lahan merupakan kunci utama yang harus segera diselesaikan, agar penataan situs bisa berjalan maksimal.
Menurut Lia, untuk melestarikan kawasan Kota Kapur, salah satunya situs Cagar Budaya Kota Kampur, yang merupakan aset sejarah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemerintah harus segera mengambil langkah serius dan konkret untuk menangani masalah lahan tersebut demi kelancaran revitalisasi cagar budaya demi masa depan pariwisata Bangka Belitung, ungkapnya.

Panitia, Peserta, yang telah mengikuti pelatihan Lokakarya Jurnalisme Lingkungan, tim yang telah membantu lancarnya pelaksanaan perjalanan menuju Kota Kapur dan juga tim yang ikut melakukan aksi susur sungai menuju zona mangrove dan kawasan situs Cagar Budaya di kawasan Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, diantaranya bernama Ahmad Arif jurnalis lingkungan (Kompas), A. Yoseph (Pemerhati hutan Mangrove), Nikki (Pemerhati hutan Mangrove), Edy Candra (Kepala Desa), HKm Wanamina Abdul Robiz, Ariel, Sandinya, Arpah (ibu Konsumsi), Situ Komariah (ibu Konsumsi), Rodatul Jannah, Mutiara Hakiki, Agus (w) , Siti Wahyuni (w) Fakhruddin Halim (w) , Lia (w) , Sandi (w), Hery (w) , Tri M. Hardi (w) , Wahyu Kurniawan (w) , Yanti Oktavia (w) , Desfiarini (w), Zul, (w), Ahmad Yusuf Ariffien (w) , Ayi (w), Budi Randa (w) , Deanty Nursyah Fitri, Deacky Friandy, Sentosa, Ahmad. (Desfia/2026)


