TopBabel.com-Dengan adanya keinginan pemerintah untuk menata kembali kawasan Pasar Pagi, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, menimbulkan gejolak di kalangan para Pedagang Pasar Pagi, hal ini dikarenakan kwatiran para pedagang untuk di realisasikan ke lantai atas dan hasil jualannya akan turun drastis.
Para pedagang Pasar pagi, yang merupakan usaha mikro di pasar tradisional kota Pangkalpinang, di tengah kondisi harga barang pokok yang kian mencekik dan daya beli masyarakat yang kian layu, paradigma berburu takhta “kaya raya” tampaknya sudah bergeser dari impian para pedagang Pasar pagi.
Yuni Pedagang Pasar pagi, mengatakan kepada TopBabel.com-, “Bagi kami, bertahan hidup tanpa terjerat utang hari ini, dapat makan, dan memberi uang jajan anak adalah sebuah kemewahan tersendiri, untuk sekarang ini, “dak pacak bu nek cari kaya dengan berdagang sekarang nie”.
Yuni jelaskan zaman sekarang ini, bisa buka lapak, barang jualan habis, dan pulang bawa uang buat beli beras, belanja anak saja sudah Alhamdulillah luar biasa,” ujarnya di sela kesibukannya menggelar dagangan sayurnya si tenda milik Honda.
Menurut Yuni, berdagang sekarang tidak seperti dulu lagi, kalau dulu kita berdagang, “Hasil jualan kita bisa untuk membeli mobil, walau kredit, men sekarang (kalau sekarang) ini, barang dagangan terjual ge la besyukur”. Daya beli masyarakat menurun terus, sekarang ini. Rigemlah dengan keinginan pemerintah, nek mindah kami ke dalam, emang cukup.
Yuni sampaikan bahwa pedagang keberatan di pindah, karena tempat di dalam tu sempit, kurang luas, pembelipun ngeras dak nyaman kedalam belanja sesak. Men semue di pindah ke dalam entahlah koe, ujarnya.
Menurut Yuni, Keuntungan bedagang yang dulu e ngenebel dompet (bias membuat dompet tebal), kini tinggal cerita lama. “Daya beli lesu Bu sekarang ini, barang-barang laku ge lah alhamdulillah”.
Paradigma “yang penting berputar” menjadi satu-satunya napas yang memperpanjang napas usaha di pasar tradisional Pasar pagi ini, ujarnya.

Yuni juga mengatakan dengan adanya keinginan pemerintah untuk melakukan penataan pasar, penertiban dan relokasi pedagang ke lantai atas, tentunya membuat kami para pedagang resah.”Pasti bakal ribu”.
Yuni, mengatakan “bisa makan dari hasil berjual” adalah potret getir sekaligus bukti ketangguhan mental para pedagang yang menolak menyerah pada keadaan, meski keuntungan yang didapat hanya cukup untuk menyambung hari esok, katanya. (*)


