TopBabel.com-Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin beserta istri Ibu Susanti mengunjungi pasar kreatif Paspamer Pasir Padi 2026, sekaligus membuka kegiatan Pasar Kreatif Paspamer, Jumat (19/6/2026) bertempat di lokasi penyelenggaraan Festival Pasir Padi ke-7, Pantai Pasir Padi, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.
Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin menyampaikan terimakasih keikut sertaan komunitas 5 Punggawa Nusantara, Paspamer 2026 pada festival Pasir Padi ke-7 Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, semoga komunitas 5 Punggawa Nusantara sukses selalu. Hal yang sama disampaikan ibu Susanti dengan mendoakan semoga komunitas 5 Punggawa Nusantara sukses dan memberikan kreasi yang positif untuk Kota Pangkalpinang.

Sementara panitia Paspamer 2026 (5 Punggawa Nusantara) Irman menyampaikan kegiatan pasar kreatif Paspamer merupakan rangkaian dari Festival Pasir Padi ke-7, mengusung tema besar “Mengabadikan Memori, Menggerakkan Ekonomi, Menghidupkan Identitas”.
Dijelaskan Irman, bahwa festival kolaboratif ini akan berlangsung selama 11 hari. Yaitu mulai tanggal 19 Juni 2026 hingga 29 Juni 2026
Kegiatan Pasar Kreatif Paspamer menghadirkan perpaduan unik antara ekosistem fotografi, pariwisata berkelanjutan, dan kearifan lokal Pulau Bangka dengan dukungan pemerintah kota Pangkalpinang, melalui
Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang dan digagas oleh kolaborasi komunitas 5 Punggawa Nusantara.Irmanpun mengatakan bahwa Paspamer 2026 bukan sekadar pameran rutin, melainkan sebuah pergerakan dari “arsip ke aksi”. Dimana acara ini, bertujuan membangun ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi, di mana warga dan pelaku lokal diberdayakan untuk mengubah dokumentasi sejarah dan lingkungan menjadi aset cerita yang bernilai ekonomi.
Dijelaskan Irman Paspamer adalah undangan untuk pulang. Pulang ke alam, pulang ke sejarah, dan pulang ke esensi paling murni dari fotografi dan identitas kita.
Di sini, kami tidak hanya menangkap cahaya, tetapi mengabadikan jiwa Pulau Bangka untuk selamanya, ujarnya.

Menurut Irman, daya tarik utama: Kamera Handmade dari Material Lokal Bangka. Salah satu sorotan paling inovatif dalam Paspamer 2026 adalah inisiatif penciptaan kamera handmade (Obscura & Pinhole) yang dirakit dari material khas Bangka, seperti batuan pesisir, material dari bekas tambang timah lokal, hingga rancangan Merapi Volcanic Rock Pinhole Camera.
Karya ini akan dipamerkan sekaligus menjadi media edukasi bagi pengunjung tentang bagaimana limbah dan alam sekitar dapat diubah menjadi alat berkarya yang bernilai seni tinggi.
Irman sampaikan 8 agenda utama Paspamer 2026, dimana Festival ini menawarkan pengalaman imersif melalui 8 pilar kegiatan yang menyasar pelaku UMKM, komunitas foto, pengrajin, hingga wisatawan domestik dan mancanegara, kemudian
Pameran Foto Suryagrafi & Ragam Kamera Handmade (Obscura).
Petualangan Alam (Low and High Rope),
Diskusi & Workshop Kreatif (Fotografi, Kuliner, Jurnalisme, hingga Kekayaan Intelektual).
Pentas Musik & Budaya (Menampilkan alat musik tradisional Dambus dan Fashion Art).
Malam Seribu Suara (Panggung ekspresi dan kolaborasi komunitas).
Petualangan Budaya & Wisata Edukatif.
Camping Pariwisata di kawasan Pantai Pasir Padi.
Peluncuran Buku Kolaboratif “Saujana Pasir Padi” sebagai arsip visual dan literasi budaya.
Paspamer 2026 menargetkan kehadiran lebih dari 1.000 pengunjung, 200 peserta workshop, serta lahirnya kekayaan intelektual baru berupa 3 jenis kamera handmade bercorak lokal dan terbitnya 1 buku kolaboratif yang akan menjadi referensi pariwisata dan budaya Bangka, jelasnya.
Masyarakat umum, wisatawan, dan pegiat industri kreatif diundang untuk hadir dan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan.
Tentang Pasar Kreatif Paspamer adalah inisiatif akar rumput yang digerakkan oleh kreativitas warga dan didukung oleh platform kolaboratif, bertujuan memastikan pengelolaan destinasi pariwisata bersifat inklusif, mandiri, dan berakar pada kearifan lokal.
Irman mengatakan kegiatan ini berjalan berdasarkan Surat Rekomendasi Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang (No: 500.13/172/DISPAR/VI/2026).
“Membuat kamera dari material Pulau Bangka adalah sebuah undangan untuk pulang. Pulang ke alam, pulang ke sejarah, dan pulang ke esensi paling murni dari fotografi. Ketika Anda membangun kamera dari tanah Bangka, Anda tidak hanya menangkap cahaya — Anda sedang mengabadikan jiwa pulau ini untuk selamanya”, ungkapnya. (*)


