Oleh: Danil Eko Saputra
Presiden Mahasiswa Universitas Anak Bangsa 2025
Koordinator Daerah Aliansi BEM Babel
Mahasiswa Bangka Tengah
Pemerintah menargetkan PLTN pertama Indonesia berkapasitas 500 MW di Pulau Gelasa, Bangka Belitung, mulai beroperasi pada 2032 dengan investasi sekitar Rp 17 triliun. Klaim manfaat ekonomi dan ketahanan energi perlu diuji terhadap bukti empiris dan kajian risiko independen sebelum keputusan final.
Risiko keselamatan dan bencana
Indonesia terletak pada cincin api Pasifik yang dicirikan oleh aktivitas seismik dan vulkanik tinggi, data BMKG dan Badan Geologi mencatat ribuan gempa setiap tahun dan sekitar 127 gunung berapi aktif di Indonesia . Kecelakaan nuklir besar seperti Chernobyl dan Fukushima menunjukkan konsekuensi jangka panjang terhadap kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Fukushima menghasilkan evakuasi massal dan kerugian ekonomi ratusan miliar dolar AS, Chernobyl meninggalkan zona kontaminasi luas dan dampak kesehatan berlanjut puluhan tahun (sintesis dari laporan IAEA dan UNSCEAR) . Oleh karena itu, klaim bahwa Bangka Belitung “aman secara geologis” harus divalidasi melalui studi seismik dan tsunami independen yang mensimulasikan skenario ekstrem selama rentang operasional 40–60 tahun.
Limbah nuklir: masalah global yang belum terselesaikan
Secara global belum ada solusi penyimpanan limbah radioaktif berintensitas tinggi yang sepenuhnya dioperasikan secara permanen secara luas, beberapa negara membangun atau merencanakan repository geologi dalam (mis. Finlandia, Swedia) tetapi implementasinya kompleks dan memakan waktu panjang . Perkiraan produksi limbah untuk reaktor 500 MW sekitar 10–15 ton bahan bakar bekas per tahun, konsisten dengan angka industri untuk reaktor berpendingin air/reaktor modul kecil tertentu; selama 60 tahun operasi, ini berarti ratusan ton limbah yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Indonesia saat ini belum memiliki fasilitas akhir, kerangka regulasi komprehensif, atau kapasitas SDM yang terbukti untuk menangani limbah ini secara mandiri, hal yang menuntut rencana repository, pendanaan terjamin, dan mekanisme akuntabilitas publik sebelum proyek lanjut.
Biaya dan waktu tidak kompetitif dibanding EBT
Perhitungan investasi Rp 17 triliun untuk 500 MW (≈Rp 34 miliar/MW) tampak lebih tinggi dibandingkan rentang biaya yang dilaporkan untuk pembangkit surya dan angin di Indonesia (PLTS: sekitar Rp 15–20 miliar/MW; PLTB: sekitar Rp 12–18 miliar/MW), meskipun angka tepat bergantung pada komponen seperti penyimpanan energi dan integrasi jaringan. Proyek nuklir di banyak negara sering mengalami keterlambatan dan pembengkakan biaya, literatur industri menunjukkan risiko overbudget 30–50% pada proyek nuklir besar. Sementara PLTS/PLTB dapat dibangun lebih cepat (1–3 tahun untuk proyek utilitas) dan secara modular ditingkatkan sesuai kebutuhan, PLTN memerlukan 6–8 tahun konstruksi dan persiapan yang kompleks. Oleh karena itu, investasi yang sama dapat menghasilkan kapasitas terbarukan lebih besar dan lebih cepat terealisasi.
Dampak sosial-ekonomi lokal
Bangka Belitung memiliki populasi sekitar 1,2 juta jiwa dengan ketergantungan signifikan pada perikanan dan pariwisata pesisir, gangguan pada ekosistem pesisir (mangrove, terumbu, zona tangkap) akan berdampak langsung pada mata pencaharian lokal. Klaim kerusakan 15.000–20.000 ha atau nilai ekonomi US$50–80 juta per tahun perlu diverifikasi lewat studi AMDAL, valuasi jasa ekosistem, dan survei sosial-ekonomi lokal (belum dipublikasikan secara terbuka). Tanpa rencana kompensasi dan mekanisme partisipasi masyarakat yang transparan, proyek berisiko menimbulkan kerugian distribusi pada komunitas lokal.
Ketergantungan teknologi impor
Jika komponen utama dan bahan bakar berasal dari pemasok asing (mis. vendor reaktor), proporsi biaya operasi dan perawatan yang keluar negeri bisa tinggi. Kajian kontrak dan persyaratan local content harus dipublikasikan untuk menilai sejauh mana proyek memberi manfaat ekonomi domestik (transfer teknologi, lapangan kerja, nilai tambah industri).
Potensi EBT belum dimaksimalkan
Tingkat iradiasi surya di Bangka Belitung sekitar 4.5–5.5 kWh/m²/hari menurut peta radiasi surya regional; potensi angin pantai (3–6 m/s) dan energi gelombang juga menawarkan tambahan kapasitas yang layak secara teknis. Estimasi teknis gabungan 2.600–3.800 MW EBT di wilayah perlu diverifikasi melalui pemetaan sumber daya yang rinci, studi keterbatasan jaringan, dan analisis ekonomi. Namun kombinasi PLTS, PLTB, penyimpanan baterai, dan pengelolaan beban dapat menyediakan kapasitas lebih cepat, lebih murah, dan dengan risiko lingkungan yang jauh lebih rendah dibandingkan PLTN.
PLTN di Gelasa dapat menambah kapasitas, namun membawa risiko besar dan beban jangka panjang. Tanpa kajian independen, rencana limbah, analisis biaya-manfaat yang transparan, dan persetujuan publik, proyek ini terlalu prematur. Memaksimalkan energi terbarukan lokal menawarkan alternatif lebih cepat, lebih murah, dan lebih aman.

