TopBabel.com-Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Widya Kemala Sari bersama Bupati Bangka Barat Markus, Minggu (8/2/2026) membuka Festival Perang Ketupat Tempilang, bertempat di Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Babel.
Mewakili Gubernur Kepulauan Babel Hidayat Arsani, Kepala Disparbudkepora Provinsi Babel, Widya Kemala Sari dalam sambutannya mengatakan bahwa Tradisi Lama Perang Ketupat Tempilang, merupakan kegiatan yang sejak 2014 telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kegiatan Festival Perang Ketupat dihadiri unsurForkopimda Provinsi Babel dan Kabupaten Bangka Barat, diantaranya Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Perahman, Wakapolda Kepulauan Babel Muri Miranda, anggota DPRD Babel Himmah Olivia, anggota DPRD Babel Elvi Diana, Kajari, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat.
Widya menjelaskan, dukungan untuk kegiatan tersebut diwujudkan melalui bantuan anggaran meskipun dilakukan penyesuaian akibat efisiensi.“Pemprov Babel telah memberikan dukungan anggaran sebesar 20 juta rupiah untuk kegiatan ini, dari rencana awal 50 juta rupiah, karena adanya efisiensi anggaran,” ujarnya.Selain itu, Widya juga mengungkapkan rencana pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Kepulauan Babel pada tahun 2026 ini.
Urusan pelestarian budaya di Babel selama ini, kata Widya, masih berada di bawah BPK Provinsi Jambi.Tentunya dengan keberadaan BPK ini, diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah proses pelestarian, pencatatan, hingga pengembangan kebudayaan daerah, serta semakin mudah dan lebih dekat dengan masyarakat, ujarnya. Pemerintah Provinsi berharap tradisi Perang Ketupat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tetap lestari, serta menjadi daya tarik wisata budaya daerah.
Sementara Bupati Bangka Barat Markus dalam sambutannya menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir dan berkumpul di festival perang ketupat tempilang, bersama tamu undangan dan masyarakat Tempilang yang melaksanakan festival perang ketupat. Disampaikan Bupati Markus, bahwa perang ketupat merupakan ritus masyarakat tempilang, yang dirayakan setiap tahunnya sebagai simbol rasa syukur, tolak bala, dan mempererat silaturahmi didalamnya. hal ini dimunculkan pada peristiwa melempar ketupat dan ditutup dengan salam dan pelukan tanpa menyimpan rasa amarah yang memperlihatkan rasa kebersamaan.

Kemudian Bupati Markus mengatakan ritual adat ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) pada tahun 2014, tari kedidi, untuk adat taber kampung di tahun 2015 dan tari serimbang tahun 2019 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaDiberikan Markus, perang ketupat yang pertama kali di lakukan pada tahun 1800-an bertempat di benteng kota tempilang, untuk memperingati nenek moyang mereka yang gugur dalam membela dan mempertahankan benteng tempilang pada serangan lanun di tahun 1793, dan menjadi cikal bakal prosesi adat istiadat perang ketupat.
Ritual yang dipadu dengan doa arwah ini kemudian dilaksanakan di tiap bulan ruah atau sya’ban menjelang bulan puasa ramadhan.Di akhir kata Bupati Bangka Barat berharap tradisi lama Perang Ketupat Tempilang pusaka Negeri akan tetap lestari, pungkasnya.(*)



